BBM... Sekali lagi BBM
Sore tadi aku jalan-jalan dengan putriku. Aku bersilaturahmi ke salah satu saudara. Disana aku mendengar ada kecelakaan yang memakan korban bapak beserta anaknya. Kecelakaan itu terjadi karena ban sepeda sudah halus tapi dipaksakan untuk dikendarai. Ban belakang meledak dan menyebabkan kendaraan oleng akhirnya jatuh.
Tetangga korban berbondong-bondong menjenguk. Salah seorang nenek korban menangis dan tidak dapat berjalan. Orang lalu lalang berbicara seandainya si fulan tidak mengendarai sepeda motor yang bannya sudah halus… ehm… pemandangan yang cukup ironis bila kita membaca banyak calon pembeli sepeda motor mengerutkan dahi, marah-marah bila tidak di loloskan permohonan untuk mengkredit sepeda motor.
Meningkatnya pendapatan dan semakin mudahnya memperoleh kredit membuat semakin tinggi kebutuhan akan sepeda motor. Aku sendiri lima tahun yang lalu tidak punya sepeda motor, kemana-mana ikut teman hingga akhirnya dapat memiliki karena adanya jasa kredit. Kemudahan kredit memaksa diriku berusaha mendapatkan sepeda motor. Setelah lima tahun ganti yang baru, juga karena kemudahan kredit dengan uang muka motor bekas.
Sementara pemerintah harus menyediakan BBM untuk sepeda motor-sepeda motor ini. Setiap tahun kebutuhan meningkat, sementara hasil dari menggunakan sepeda motor kelihatannya tidak memenuhi untuk peningkatan pendapatan negara. Akhirnya dari tahun –ke tahun semakin berat beban negara akibat perubahan gaya hidup rakyatnya yang mulai senang mengkredit sepeda motor. Memang itu sudah mnejadi resiko kehidupan modern yang salah satu cirinya “katanya” adalah semakin tingginya kepemilikan sepeda motor.
Emh, memang untuk menilai keberhasilan pembangunan dilihat dari kepemilikan barang sekunder bagi penduduknya kadang menyesatkan. Apakah kalau sudah punya sepeda terus dianggap sudah sejahtera, padahal banyak yang membeli sepeda motor dengan kredit… itupun memaksakan diri. Belum tentu hal itu benar adanya… ini memang kesempatan para politisi membelokkan keberhasilan pembangunan… entahlah?
Aku teringat suatu isi materi ceramah seorang ustadz dari Madiun, ustadza Hasyim di Pondok Pesantren Al Hikam yang dipancarkan di radio. Isi ceramah itu adalah mengapa dalam hadits Rasulullah menyebutkan belajarlah sampai negeri Cina. Kata beliau Cina mempunyai karakteristik Islami yang sementara ini baru secara lahir dikuasai belum secara batain. Cina adlah sebuah negara yang aneh kata beliau, cina mempunyai kekhasan dalam hal kewirausahaan. Cina merupakan penghasil barang elektronik sampai kendaraan bermotor yang terkenal murah, bahkan sampai Eropa dan Amerika sempat kewalahan dalam menangani Cina ini.
Ustadz Hasyim mengatakan bahwa orang cina itu aneh, memakai barang yang jelek tapi menjual barang yang bagus. Umumnya orang memakai barang yang bagus tapi di Cina barang bagus tidak laku. Selidik punya selidik apa yang dinamakan barang “bagus” di negeri lain, di Cina bisa dianggap barang “jelek”. Contohnya di Cina jarang yang memakai sepeda motor. Orang lebih senang jalan kaki atau memakai sepeda pancal. Alasan utamanya adalah demi kesehatan. Wow jawaban yang sangat aneh… di negeri kita ini, jutru orang yang jalan kaki akan dianggap kurang sehat, sebab tidak gampang sampai tempat kerja dan akhirnya tidak dapat duit… pikiran pusing… sakit! Hahaha..
Karena di Cina tidak banyak yang pake sepeda motor, kabarnya BBM disana tidak begitu mempengaruhi kehidupan ekonomi negara. Ah… memang masih perlu dipertanyakan… aku belum pernah keluar negeri, jadi tak tahu apa berita ini benar. Tapi… tidak perlu sampai apakah itu benar atau tidak, Cina sekarang telah menjadi negara yang paling maju ekonominya. Menguasai pasar dunia dan diuntungkan dengan adanya perdagangan bebas.
Anomali ekonomi Cina adalah fenomena yang kurang diprediksi oleh juragan-juragan Amerika dan Eropa. Juragan-juragan Amerika dan Eropa merencanakan sebuah perubahan ekonomi dunia yang menjurus pada satu tangan yaitu ekonomi Amerikan dengan simbul Dollar Amerika. Sekarang kejadiannya justru terbalik, Cina menguasasi pasar dan Dollar Amerika berkali-kali harus di tegakkan dengan berbagai cara di bursa saham… termasuk memakan perekonomian dunia ke tiga. Perekonomian dunia ke tiga telah dikuasai sepenuhnya oleh Dollar dengan adanya suntikan dana segar dalam pembangunan negara. Tingginya pinjaman dunia ketiga merupakan bagian penting dalam penegakan Dollar… wah… kayak tahu aja… sebenarnya ini hanyalah hasil dari aku membaca bloger-bloger idealis yang sangat benci uang kertas… ehm… pada hal aku senang….
Apakah negeri kita dapat sekuat Cina sekarang ini… ehm… jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Jawaban ya adalah yang tentu kita pilih. Untuk bisa seperti itu maka pakailah cara Cina memproduksi barang. Produksilah barang yang bagus dan jual, pakailah barang sekemampuan diri menghasilkan uang…. Apa di cina kredit sepeda motor juga banyak?.... katanya tidak laku!
BBM akan terus menjadi masalah yang berulang-ulang terjadi. Pada suatu saatnya nanti pastilah negara tidak mampu mensubsidi lagi… dan… memaksa kembali penduduknya menjadi manusia yang sehat… berjalan, bersepeda pancal, menggunakan kendaraan umum… kapan terjadi…. Semoga hal itu tidak dimulai dengan protes sosial seperti tahun enampuluhan dan sembilan puluhan…. Di Thailand kini terjadi protes penduduk sipil yang terkenal dengan kaos merah… dan seperti di Cina ditumpas dengan kekuatan militer… apa memang harus begitu?
Sekali lagi akankah masalah BBM ini terus berkembang menjadi bola salju yang besar hingga sulit di tangani….? Jawaban secara ekonomis adalah tingkatkan pendapatan dan minimalkan pemborosan pengeluaran… kalau memang butuh BBM, harga BBM dan hasil dari menggunakan BBM harus lebih banyak hasilnya… kalau tak menghasilkan kurangi pemakaian BBM….
Teori ini mudah, tapi …. Moga-moga BBM bukan menjadi Barang Bikin Mumet…. hahaha
Tetangga korban berbondong-bondong menjenguk. Salah seorang nenek korban menangis dan tidak dapat berjalan. Orang lalu lalang berbicara seandainya si fulan tidak mengendarai sepeda motor yang bannya sudah halus… ehm… pemandangan yang cukup ironis bila kita membaca banyak calon pembeli sepeda motor mengerutkan dahi, marah-marah bila tidak di loloskan permohonan untuk mengkredit sepeda motor.
Meningkatnya pendapatan dan semakin mudahnya memperoleh kredit membuat semakin tinggi kebutuhan akan sepeda motor. Aku sendiri lima tahun yang lalu tidak punya sepeda motor, kemana-mana ikut teman hingga akhirnya dapat memiliki karena adanya jasa kredit. Kemudahan kredit memaksa diriku berusaha mendapatkan sepeda motor. Setelah lima tahun ganti yang baru, juga karena kemudahan kredit dengan uang muka motor bekas.
Sementara pemerintah harus menyediakan BBM untuk sepeda motor-sepeda motor ini. Setiap tahun kebutuhan meningkat, sementara hasil dari menggunakan sepeda motor kelihatannya tidak memenuhi untuk peningkatan pendapatan negara. Akhirnya dari tahun –ke tahun semakin berat beban negara akibat perubahan gaya hidup rakyatnya yang mulai senang mengkredit sepeda motor. Memang itu sudah mnejadi resiko kehidupan modern yang salah satu cirinya “katanya” adalah semakin tingginya kepemilikan sepeda motor.
Emh, memang untuk menilai keberhasilan pembangunan dilihat dari kepemilikan barang sekunder bagi penduduknya kadang menyesatkan. Apakah kalau sudah punya sepeda terus dianggap sudah sejahtera, padahal banyak yang membeli sepeda motor dengan kredit… itupun memaksakan diri. Belum tentu hal itu benar adanya… ini memang kesempatan para politisi membelokkan keberhasilan pembangunan… entahlah?
Aku teringat suatu isi materi ceramah seorang ustadz dari Madiun, ustadza Hasyim di Pondok Pesantren Al Hikam yang dipancarkan di radio. Isi ceramah itu adalah mengapa dalam hadits Rasulullah menyebutkan belajarlah sampai negeri Cina. Kata beliau Cina mempunyai karakteristik Islami yang sementara ini baru secara lahir dikuasai belum secara batain. Cina adlah sebuah negara yang aneh kata beliau, cina mempunyai kekhasan dalam hal kewirausahaan. Cina merupakan penghasil barang elektronik sampai kendaraan bermotor yang terkenal murah, bahkan sampai Eropa dan Amerika sempat kewalahan dalam menangani Cina ini.
Ustadz Hasyim mengatakan bahwa orang cina itu aneh, memakai barang yang jelek tapi menjual barang yang bagus. Umumnya orang memakai barang yang bagus tapi di Cina barang bagus tidak laku. Selidik punya selidik apa yang dinamakan barang “bagus” di negeri lain, di Cina bisa dianggap barang “jelek”. Contohnya di Cina jarang yang memakai sepeda motor. Orang lebih senang jalan kaki atau memakai sepeda pancal. Alasan utamanya adalah demi kesehatan. Wow jawaban yang sangat aneh… di negeri kita ini, jutru orang yang jalan kaki akan dianggap kurang sehat, sebab tidak gampang sampai tempat kerja dan akhirnya tidak dapat duit… pikiran pusing… sakit! Hahaha..
Karena di Cina tidak banyak yang pake sepeda motor, kabarnya BBM disana tidak begitu mempengaruhi kehidupan ekonomi negara. Ah… memang masih perlu dipertanyakan… aku belum pernah keluar negeri, jadi tak tahu apa berita ini benar. Tapi… tidak perlu sampai apakah itu benar atau tidak, Cina sekarang telah menjadi negara yang paling maju ekonominya. Menguasai pasar dunia dan diuntungkan dengan adanya perdagangan bebas.
Anomali ekonomi Cina adalah fenomena yang kurang diprediksi oleh juragan-juragan Amerika dan Eropa. Juragan-juragan Amerika dan Eropa merencanakan sebuah perubahan ekonomi dunia yang menjurus pada satu tangan yaitu ekonomi Amerikan dengan simbul Dollar Amerika. Sekarang kejadiannya justru terbalik, Cina menguasasi pasar dan Dollar Amerika berkali-kali harus di tegakkan dengan berbagai cara di bursa saham… termasuk memakan perekonomian dunia ke tiga. Perekonomian dunia ke tiga telah dikuasai sepenuhnya oleh Dollar dengan adanya suntikan dana segar dalam pembangunan negara. Tingginya pinjaman dunia ketiga merupakan bagian penting dalam penegakan Dollar… wah… kayak tahu aja… sebenarnya ini hanyalah hasil dari aku membaca bloger-bloger idealis yang sangat benci uang kertas… ehm… pada hal aku senang….
Apakah negeri kita dapat sekuat Cina sekarang ini… ehm… jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Jawaban ya adalah yang tentu kita pilih. Untuk bisa seperti itu maka pakailah cara Cina memproduksi barang. Produksilah barang yang bagus dan jual, pakailah barang sekemampuan diri menghasilkan uang…. Apa di cina kredit sepeda motor juga banyak?.... katanya tidak laku!
BBM akan terus menjadi masalah yang berulang-ulang terjadi. Pada suatu saatnya nanti pastilah negara tidak mampu mensubsidi lagi… dan… memaksa kembali penduduknya menjadi manusia yang sehat… berjalan, bersepeda pancal, menggunakan kendaraan umum… kapan terjadi…. Semoga hal itu tidak dimulai dengan protes sosial seperti tahun enampuluhan dan sembilan puluhan…. Di Thailand kini terjadi protes penduduk sipil yang terkenal dengan kaos merah… dan seperti di Cina ditumpas dengan kekuatan militer… apa memang harus begitu?
Sekali lagi akankah masalah BBM ini terus berkembang menjadi bola salju yang besar hingga sulit di tangani….? Jawaban secara ekonomis adalah tingkatkan pendapatan dan minimalkan pemborosan pengeluaran… kalau memang butuh BBM, harga BBM dan hasil dari menggunakan BBM harus lebih banyak hasilnya… kalau tak menghasilkan kurangi pemakaian BBM….
Teori ini mudah, tapi …. Moga-moga BBM bukan menjadi Barang Bikin Mumet…. hahaha
Komentar
Posting Komentar