Bertanya pada pak Dirman


Pagi tadi aku menjadi narasumber dalam pertemuan pelatihan konservasi DAS Hulu. Lokasinya di daerah monumen Sudirman. Ku sempatkan napak tilas perjuangan salah satu pahlawan favoritku itu. Aku merasakan begitu besarnya semangat pak Dirman hingga dapat menggerakkan anak buahnya yang setia padanya. Susunan relief di monumen Sudirman ini memperlihatkan perjuangan yang tak kenal menyerah. Ada beberapa yang sempat ku serap tentang keistimewaan beliau dalam berjuang, ia mampu menularkan semangatnya kepada seluruh pengikutnya serta keluarganya. Semangat itu menyalur pada istri beliau dengan bukti bu Dirman memberikan sebagian perhiasan untuk perjuangan pak Dirman. Ini sungguh luar biasa.

Alih-alih keadaan sekarang... sebenarnya aku masih yakin ada orang-orang besar sekelas pak Dirman yang menyelamatkan negara ini. Entah siapa, namun pasti ada, buktinya negara yang dikenal boros dalam penyelenggaraan negara ini masih eksis dan terus maju. Memang sangat mudah mencari kelemahan orang, mungkin yang sulit justru mencari kelebihan orang bagi kuatnya negeri yang telah diperjuangkan dengan jiwa dan raga para pahlawan ini. Apa peran kita dalam bernegara?
Aku dulu pernah agak apatis dengan negara. Apa perlunya negara? manusia membuat negara-negara justru menjadi saling bertikai. Aku termakan lagunya The Beathles yang mendengungkan bait seandainya tidak ada negara dalam lagunya imajinasinya. Namun setelah ikut berkecimpung dalam penyelenggaraan negara sebagai pegawai negeri sipil aku merasakan pentingnya sebuah wadah negara. Tanpa negara kekacauan akan terjadi melebihi yang sudah ada. Keyakinan ini semakin kuat ketika melihat monumen Jendral Sudirman dan mencoba memaknai semua simbul-simbul yang ada disana.
Bahkan secara sengaja aku masuk ke rumah dimana pak Dirman dulu melakukan pertemuan untuk menyusun strategi penyerangan kota Jogja. Ku titipkan satu pertanyaan pada angin yang ada di rumah ber-aura semangat membara ini... pak Dirman, seandainya engkau melihat negara yang kau perjuangkan saat ini, bagaimana perasaanmu?... ehm... anehnya angin memberi jawaban lirih pada telingaku.... "apa yang telah kau lakukan rakyatku?"... aku jadi cengar-cengir sendiri.... masih sedikit aku mengabdikan diri pada masyarakat... masih banyak niatan mengabdi ini untuk mencari penghasilan... ya... seperti biasanya orang sekarang...
Jadi ingat pandangan Ari Gynanjar dalam ESQ live di TPI tentang kelirunya pendidikan sekarang yang menuju ke liberalisme sehingga mengajarkan Tuhan itu sebagai alat untuk menuju hedonisme pemujaan pada atribut dunia... Tuhan telah kita gunakan untuk memastikan diri kita mencapai status dunia... entahlah.

Komentar

Postingan Populer