Kekejaman berdiam dalam setiap insan
Dalam akhir Q.S Al Fathihah memerintahkan untuk meningkatkan kesadaran pada diri kita bahwa belum tentu apa yang kita lakukan sekarang ini adalah benar adanya. Mungkin saja kita tengah diperdaya oleh setan sehingga kita seperti berjalan pada kebenaran pada hal salah. Maka kita diwajibkan paling tidak 17 kali setiap hari untuk memperingatkan diri kita agar berlindung dari kekejaman diri sendiri saat lalai.
Peristiwa kekejaman yang dilakukan tentara Israel terhadap para relawan kemanusiaan memperlihatkan bahwa kadang suatu negarapun tak mampu meredam keegoisannya. dengan dalih yang logis bahwa orang Palestina telah menyerang pemukiman mereka sehingga penyerangnya diberi ganjaran diisolir dari peradaban. Logis memang, seperti anak kecil yang marah telah di cubit temannya. Menjadi tidak logis kalau hukuman itu keterlaluan, seperti anak kecil yang dicubit membalasnya dengan menendang. Penyerangan terhadap relawan yang mau membantu saudaranya untuk lebih sehat dan dapat hidup normal saja dihalangi sampai memakai tembakan segala.
Kadang kita melakukan apa yang Israel lakukan, kita sering menghakimi orang lain dengan teori ataupun pemahaman kita sendiri. Ada sebuah penelitian yang sempat di publikasikan republika beberapa hari yang lalu tentang sebenarnya setiap manusia mempunyai rasa kasihan kepada nasib orang lain yang lebih rendah, namun karena kecurigaan dan pemahaman yang keliru membuat rasa kasihan itu justru berubah menjadi kebencian. Disinilah keharusan kita untuk selalu menanyakan kembali apakah apa yang kita lakukan sudah benar?
Untuk mengingat kecurangan setan dalam mengaduk-aduk pikiran, idiologi dan kepercayaan kita, kita diwajibkan berdoa dengan Q.S Alfathihah paling tidak 17 kali yaitu satu kali disetiap rokaat sholat wajib. Semoga tulisan ini memberikan inspirasi bahwa disamping kita terus mendoakan agar palestina secepatnya mendapatkan kehidupan yang layak....
Peristiwa kekejaman yang dilakukan tentara Israel terhadap para relawan kemanusiaan memperlihatkan bahwa kadang suatu negarapun tak mampu meredam keegoisannya. dengan dalih yang logis bahwa orang Palestina telah menyerang pemukiman mereka sehingga penyerangnya diberi ganjaran diisolir dari peradaban. Logis memang, seperti anak kecil yang marah telah di cubit temannya. Menjadi tidak logis kalau hukuman itu keterlaluan, seperti anak kecil yang dicubit membalasnya dengan menendang. Penyerangan terhadap relawan yang mau membantu saudaranya untuk lebih sehat dan dapat hidup normal saja dihalangi sampai memakai tembakan segala.
Kadang kita melakukan apa yang Israel lakukan, kita sering menghakimi orang lain dengan teori ataupun pemahaman kita sendiri. Ada sebuah penelitian yang sempat di publikasikan republika beberapa hari yang lalu tentang sebenarnya setiap manusia mempunyai rasa kasihan kepada nasib orang lain yang lebih rendah, namun karena kecurigaan dan pemahaman yang keliru membuat rasa kasihan itu justru berubah menjadi kebencian. Disinilah keharusan kita untuk selalu menanyakan kembali apakah apa yang kita lakukan sudah benar?
Untuk mengingat kecurangan setan dalam mengaduk-aduk pikiran, idiologi dan kepercayaan kita, kita diwajibkan berdoa dengan Q.S Alfathihah paling tidak 17 kali yaitu satu kali disetiap rokaat sholat wajib. Semoga tulisan ini memberikan inspirasi bahwa disamping kita terus mendoakan agar palestina secepatnya mendapatkan kehidupan yang layak....
Komentar
Posting Komentar